11 September 2025
Strategi diagnostik dan ablasi SVT disajikan dari berbagai perspektif untuk mendukung praktik klinis yang lebih efektif.
Sesi workshop di Djakarta Room, Level 2 untuk allied professional dengan tajuk Supraventricular Tachycardia Made Easy diawali dengan kata sambutan dari Iyan Solihin yang menyampaikan apresiasi kepada para peserta atas partisipasinya. Sebelum memasuki materi inti, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test singkat untuk mengukur pemahaman awal terkait topik yang akan dibahas.
Materi pertama dibawakan oleh Ardyles dengan judul “Dual AV Nodal Pathway, What is the Mechanism?”. Pada sesi ini, pembicara mengulas dasar elektrofisiologi mengenai jalur ganda pada nodus AV, khususnya peran jalur cepat dan jalur lambat. Mekanisme terjadinya atrioventricular nodal reentrant tachycardia (AVNRT) dijelaskan secara sistematis, termasuk implikasi pentingnya terhadap proses diagnosis dan pilihan terapi. Dengan pemahaman ini, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi mekanisme aritmia secara lebih tepat dan efektif.
Selanjutnya, giliran Deni Agustian Muhidin yang menyampaikan materi “ECG Manifestation of AVNRT and It’s Variant”. Pemaparan ini menekankan bahwa AVNRT merupakan aritmia supraventrikular yang paling sering ditemui, dengan mekanisme klasik slow-fast serta sejumlah variasi atipikal. Manifestasi khas pada EKG seperti QRS sempit, interval RP yang lebih pendek daripada PR, hingga adanya gelombang P retrograde dijelaskan secara rinci. Sebagai terapi definitif, slow pathway ablation direkomendasikan karena tingkat keberhasilannya yang tinggi, sementara varian atipikal menuntut strategi ablasi yang lebih kompleks dengan dukungan studi elektrofisiologi mendalam.
Materi berikutnya, “Typical vs Atypical AVNRT on EP Study, How to Differentiate”, dibawakan oleh Arie Restio Fauzi. Sesi ini berfokus pada perbedaan karakteristik klinis dan elektrofisiologis antara bentuk typical dan atypical AVNRT. Peserta diajak memahami pentingnya menganalisis tachycardia cycle length serta menilai respons manuver diagnostik. Dengan cara ini, diagnosis dapat ditegakkan lebih akurat sehingga strategi ablasi dapat disesuaikan dengan kondisi pasien.
Memasuki materi keempat, Iyan Solihin kembali hadir dengan pemaparan berjudul “Triangle of Koch: Slow Pathway Potential Mapping Technique”. Ia menjelaskan secara komprehensif bagaimana pemetaan potensial slow pathway dilakukan di area triangle of Koch. Penjelasan diawali dari aspek anatomi dan elektrofisiologi, kemudian diteruskan pada strategi identifikasi sinyal khas yang menjadi penanda lokasi target. Akurasi interpretasi hasil pemetaan ditekankan sebagai kunci untuk meningkatkan keberhasilan ablasi AVNRT dengan tetap menjaga keamanan pasien.
Setelah itu, Abd Rahman menyampaikan materi “Ablation Parameter on SVT: RFA vs Cryo”. Ia membandingkan dua modalitas utama, yaitu radiofrequency ablation (RFA) dan cryoablation, dalam menangani supraventricular tachycardia. Perbedaan mekanisme energi, tingkat keberhasilan, serta risiko komplikasi dipaparkan secara jelas. RFA dikenal dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, tetapi berisiko menimbulkan cedera permanen, sedangkan cryoablation relatif lebih aman bagi struktur sekitar dan memiliki keunggulan reversibility, meski tingkat rekurensinya lebih tinggi. Pemahaman terhadap parameter ablasi ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang paling tepat bagi pasien.
Workshop kemudian berlanjut dengan materi “Accessories Pathway, Manifest or Concealed” oleh Ardyles. Pemaparan ini menekankan peran accessory pathway dalam aritmia jantung. Karakteristik jalur manifes maupun tersembunyi diuraikan secara detail, disertai implikasi diagnostik yang dapat diamati melalui elektrokardiogram. Identifikasi yang tepat ditekankan sebagai langkah penting untuk merencanakan strategi ablasi yang optimal sekaligus mencegah kekambuhan aritmia.
Sesi berikutnya menghadirkan Rohmad Widiyanto dengan materi “Orthodromic vs Antidromic: Deep Understanding of AVRT”. Ia menjelaskan dua mekanisme utama pada atrioventricular reentrant tachycardia (AVRT), yaitu orthodromic dan antidromic. Paparan mencakup karakteristik elektrofisiologi, perbedaan pola gelombang pada EKG, hingga implikasi diagnostiknya. Penekanan diberikan pada pentingnya pemahaman mendalam mengenai mekanisme ini untuk menunjang keberhasilan strategi ablasi yang dipilih.
Selanjutnya, Deni Agustian Muhidin kembali memberikan pemaparan dengan judul “AP Ablation: Right & Left Side Challenging Case”. Materi ini mengupas tantangan klinis pada ablasi accessory pathway baik di sisi kanan maupun kiri jantung. Faktor anatomi, teknis, serta potensi komplikasi dibahas secara mendetail. Selain itu, ia membagikan berbagai pendekatan praktis dalam menangani kasus yang sulit sehingga peserta mendapatkan wawasan yang lebih aplikatif dalam praktik klinis.
Setelah itu, Arie Restio Fauzi menyampaikan materi “Diagnostic Maneuver on AVRT: ECG and EGM”. Sesi ini menyoroti algoritma Easy-WPW dan Smart-WPW yang dapat membantu menentukan lokasi accessory pathway. Manuver pacing diagnostik seperti His refractory beat dan parahisian pacing juga dijelaskan sebagai metode untuk membedakan AVRT dari AT maupun AVNRT. Dengan pemahaman ini, strategi ablasi dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
Sebagai brand sponsor, Johnson & Johnson turut berkontribusi dengan materi “3D Navigation Mapping on SVT”. Pemaparan ini menekankan peran teknologi pemetaan tiga dimensi pada kasus supraventricular tachycardia (SVT). Berbagai strategi pemetaan dalam kondisi sinus rhythm, tachycardia, dan pacing dipaparkan, termasuk aplikasi open window mapping. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan akurasi identifikasi accessory pathway, terutama pada kasus kompleks seperti Ebstein’s anomaly.
Menjelang penutupan, peserta diminta untuk mengerjakan post-test sebagai evaluasi pembelajaran. Dari hasil tersebut, tiga peserta dengan nilai tertinggi dengan waktu tercepat terpilih sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah apresiasi. Workshop yang ditujukan bagi allied professional ini ditutup dalam suasana hangat dan penuh antusiasme, sekaligus mencerminkan keberhasilannya menghadirkan pengalaman belajar yang bermanfaat serta menyenangkan.