11 September 2025
Dari inovasi ke praktik, menjaga teknologi jantung tetap selaras dengan keselamatan pasien.
Sesi workshop pagi yang bertajuk Workshop on Advancements in Cardiac Devices : Management, Follow Up and Complications dibuka oleh course director Rerdin Julario, MD. Sesi yang diadakan di Djakarta Room, Level 2 ini diawali dengan pemberian pre-test kepada peserta untuk mengetahui sejauh mana wawasan yang sudah diketahui oleh peserta.
Sesi pertama dibuka oleh Rerdin Julario, MD dengan judul “Understanding the Basic of Pacemaker”. Penyampaian materi ini bertujuan untuk memberikan dasar terhadap penggunaan dari pacemaker. Sesi selanjutnya disampaikan oleh Yoga Wananugraha, MD dengan topik “Mastering All About Device Timing Pacemaker”. Pacemaker yang sering dijumpai adalah AAI, DDD, dan VVI. Jika AV conduction masih baik, dapat dipertimbangkan pemasangan tipe AAI. Tipe VVI paling dibutuhkan pada pasien AV block dengan fibrilasi atrium. Selanjutnya, diberikan beberapa contoh kasus dan jenis pacemaker yang tepat diberikan untuk pasien. Topik workshop dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Sebastian Andy Manurung, MD dengan judul “Conventional Pacemaker vs CSP: Which One Better?”. Pasien dengan fraksi ejeksi yang normal dapat menggunakan classic right ventricular pacing. Pada pasien yang dari awal sudah mengalami penurunan ejeksi fraksi, pilihan yang dapat diberikan adalah CSP. Berdasarkan meta-analisis, jika dibandingkan dengan CST, penggunaan CSP menunjukkan terdapat penurunan angka mortalitas dan angka perawatan karena gagal jantung, serta skor New York Heart Association Functional Classification (NYHA) yang lebih baik. Sebagai kesimpulan, CSP lebih superior karena bekerja dengan menyimpan aktivasi fisiologis dan mencegah terjadinya pacemaker induced cardiomyopathy.
Materi dilanjutkan oleh Ragil Nur Rosyadi, MD dengan judul “Advanced CRT: An Option for Heart Failure Patient”. Pasien dengan LBBB memiliki mortalitas yang sangat signifikan. Pasien gagal jantung dengan QRS lebar memiliki angka mortalitas yang lebih tinggi. Pasien dengan QRS lebar dapat dilakukan sinkronisasi menggunakan CRT dengan memberikan pacing di ventrikel kanan dan atrium kanan sehingga menghasilkan curahan jantung yang optimal sehingga akhirnya dapat menurunkan mortalitas. Topik selanjutnya dengan judul “Patient Selection for Leadless Pacemaker” yang dibawakan oleh Muhammad Rafdi Amadis, MD. Leadless pacemaker digadang-gadangkan sebagai pacemaker terkecil di dunia. Sesi dimulai dengan pemberian kasus nyata pada pasien yang dipasangkan pacemaker dan tatalaksana yang akan dilakukan pada kasus tersebut. Pada kasus lead dan pocket pacemaker, terdapat beberapa komplikasi dan jika terjadi komplikasi harus dilakukan lead extraction. Akan tetapi, alat untuk lead extraction belum tersedia di Indonesia. Oleh karena itu, leadless pacemaker menjadi pilihan yang dapat digunakan. Leadless pacemaker tidak memerlukan transvenous lead dan dapat diimplan secara langsung di ventrikel kanan. Selain itu, risiko perdarahan juga minimal dengan pemasangan alat ini. Leadless pacemaker juga memiliki angka keberhasilan pemasangan yang tinggi disertai dengan komplikasi yang lebih sedikit dibandingkan transvenous pacemaker.
Di siang hari, materi dilanjutkan dengan topik “Peri-procedural Complication: How to Tackle” oleh Yoga Wananugraha, MD. Percutaneous transvenous extraction disarankan dalam jangka waktu kurang dari 12 bulan. Komplikasi yang sering didapatkan dalam kasus sehari-hari adalah pocket hematoma. Teknik hemostasis, antikoagulan, dan irigasi menjadi tiga hal penting dalam menangani komplikasi periprosedural. Hematoma sebaiknya dievakuasi jika terjadi peningkatan tekanan pada kulit. Materi pun dilanjutkan oleh Sebastian Andy Manurung, MD dengan topik “Infection and Lead Extraction: How to Cover that”.
Setelah melewati sesi diskusi materi sebelumnya yang diselingi Coffee Break, workshop kembali dilanjutkan oleh Ragil Nur Rosyadi, MD yang membawakan materi dengan judul “CIED Involving Surgery, Radiation Therapy and EMI: Is it a concern“. Sesi selanjutnya disampaikan oleh Muhammad Rafdi Amadis, MD dengan judul “Patient Follow Up in Clinic or Just Remote Monitoring?”. Sebagai penutup materi, seluruh narasumber memberikan pembahasan kasus yang bertajuk “Case Based Discussion: Challenging Scenario on Device Interrogation”. Kasus pertama membahas mengenai perbedaan antara atrial undersensing dengan atrial oversensing. Gelombang P yang disertai gelombang T setelahnya yang terlihat sebagai spike disebut sebagai undersensing. Jika benar terdapat undersensing, manajemen yang dapat dilakukan adalah melakukan sensing test, tanyakan keluhan pasien, cek impedansi dari lead. Selain itu, terdapat sensing assurance yang dapat menyesuaikan secara otomatis ketika terdapat undersensing. Kasus kedua berkaitan dengan ventricle oversensing.
Di akhir sesi, diadakan diskusi bersama dengan peserta untuk membahas keseluruhan materi. Pada workshop kali ini, peserta berkesempatan untuk mempelajari dasar-dasar dari alat mutakhir yang digunakan di bidang kardiovaskuler serta indikasi penggunaannya sehingga dapat membantu pasien nantinya.